26 April 2009

SMAK Santo Paulus Juarai JBL


Minggu, 26 April 2009, adalah hari terakhir pelaksanaan JBL (Jurnalist By Learning) yang diselenggarakan LPME Ecpose. Acara ini termasuk dalam rangkaian acara Dies Natalies LPME Ecpose ke-20 yang digelar sejak Maret lalu. Di hari pertama pelaksanaan JBL, terlebih dahulu peserta dibekali materi-materi seputar jurnalistik. Untuk tulisan peserta diperkanalkan tentang dunia tulis-menulis oleh Hari Setiawan (Redaktur harian Radar Jember). Untuk fotografi oleh Heru Putranto, fotografer kawakan yang saat ini bekerja untuk Radar Jember.

Dihari kedua, kedelapan belas tim dari berbagai sekolah se-Jember ini terjun ke bantaran Kali Bedadung untuk reportase. Peserta juga harus membuat media di hari itu juga. Pelaksanaan yang hanya satu hari ini, dijelaskan oleh Ketua Panitia JBL Pandu Tyagita untuk melatih skill jurnalistik peserta.” Jadi semua pengerjaan media dilakukan selama satu hari,” kata Pandu.

Suasana penuh haru mewarnai hari ketiga pelaksaan JBL. Karena setelah selama dua hari peserta bergelut dengan media, di hari ketiga ini adalah pengumuman pemenangnya. Dari penilaian dari dewan juri, yakni Hari Setiawan, Heru Putranto, dan Aulia Rachman dipilihlah pemenang JBL dengan nilai tertinggi, yakni perwakilan dari Tim SMAK Santo Paulus. Aplaus meriah langsung diberikan peserta setelah pengumuman pemenang. “Saya senang banget bisa juara, tidak menyangka hasil ini,” terang salah seorang perwakilan dari SMK Santo Paulus. Untuk juara kedua dan ketiga dari lomba jurnalistik ini diperoleh MAN 1 Jember.

baca lanjutan..

22 April 2009

Kembali Ingatkan Kecintaan Kita pada Bumi


”Merangkai Asa Wujudkan Bumi Lestari”, itulah sederet judul sebuah leflet yang dibagikan oleh sekelompok mahasiswa yang melakukan aksi di hari bumi yang jatuh pada 22 April hari ini. Berbagai macam elemen mahasiswa Jember yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa Peduli Lingkungan ini melakukan aksi berupa long march dan juga teatrikal bertema kerusakan bumi. Aliansi yang beranggotakan berbagai macam organisasi ini, antara lain terdiri dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Kesenian dan UKM Pers Mahasiswa. Mereka antara lain UKM Kesenian Pusat, Panjalu, Dolanan, DKK, Titik, Tiang, Wismagita, LPME Ecpose, Tegalboto, Sardulo Anurogo, Lumut, Komsi, Kurusetra, LPMM Alpha, LPMF Prima, LPMS Ideas dan PPMI (Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia) Kota Jember.

Berangkat dari Fakultas Teknologi Pertanian Unej, rombongan aksi kemudian berjalan melewati FKG dan turun ke Jalan Mastrip, Kalimantan dan berakhir di double W Universitas Jember. Meski aksi yang bertema Wajah Bumi Kekinian ini, sempat tersendat karena sulitnya mengatur lalu lintas antara Jalan Mastrip dan Kalimantan, namun aksi ini mampu menyedot perhatian masyarakat sekitar. Masyarakat nampak tertarik dengan adanya atraksi teatrikal besutan beberapa UKM Kesenian yang telah sengaja dipersiapkan beberapa hari sebelumnya.

Dari rapat koordinasi yang berlangsung pada tanggal 19 April lalu, diputuskan akan diadakannya aksi ini. Dalam rapat tersebut, Samsul Arifin, mantan Ketua Umum UKM Kesenian Pusat terpilih menjadi kordinator lapangan dalam aksi ini. ”Tujuan acara ini sebenarnya ajang kumpul-kumpul arek mahasiswa dan umum, kan jarang iso bareng, trus bentuk kepedulian meskipun sedikit, dan menghibur”, ujarnya ketika diwawancarai sesaat setelah aksi berakhir.
Dalam teatrikal yang ditampilkan, ada beberapa tokoh yang menggambarkan keadaan bumi saat ini. Dua orang berperan sebagai kekeringan, perlambang bumi yang telah rusak, kemudian dua orang lagi berperan sebagai perlambang bumi yang masih hijau. Keempat perlambang ini berjalan berderet di depan puluhan mahasiswa dengan baju hitam-hitam, yang mengikuti dari belakang sambil memunguti sampah yang mereka lewati. Sampah tersebut dibagi dalam dua gerobak, sampah organik dan sampah anorganik. Menurut Sari, anggota UKMK Kurusetra yang berperan sebagai tokoh perlambang kekeringan dalam teatrikal tersebut, pesan yang dibawa dalam teatrikal tersebut yakni mengungkapkan himbauan agar menjaga lingkungan tidak hanya dilakukan waktu Hari Bumi saja. ”Jangan cuma ingat saat Hari Bumi saja, tapi juga untuk dipraktekkan seterusnya”, ungkapnya singkat.

Setelah sampai di depan double W, rombongan ini disambut oleh rombongan lain yang menggelar aksi serupa. Selain mahasiswa yang tergabung dalam aliansi ini, ternyata aksi serupa juga digelar oleh organisasi non mahasiswa Gerimis. Selain melakukan long march dari pertigaan Jalan Karimata, Jalan Jawa, dan Kalimantan, Gerimis juga menggelar teatrikal yang bertajuk perusakan bumi oleh bahan-bahan kimia. Tokoh perlambangnya, digambarkan dengan seorang yang memakai baju dari bekas plastik sabun cuci.

Aksi semakin semarak. Setelah dari pihak Gerimis melakukan teatrikal, disusul oleh teatrikal dari Aliansi Mahasiswa Peduli Lingkungan. Kemudian setelah teatrikel selesai, parade angklung yang diiringi pembacaan esai oleh UKM Reog Unej, Sardulo Anorogo pun ditampilkan. Sebelum acara berakhir dengan foto bersama, doa untuk bumi pun dipanjatkan khusyuk.

Mengenai persiapan yang dilakukan hingga terbentuknya acara ini, menurut Samsul tidak mengalami kendala yang berarti. Namun yang kurang, hanya tidak bisa terlibatnya semua elemen mahasiswa. ”Tapi bila melihat prosesnya, teman-teman banyak yang senang dan lancar wae”, tambahnya. Secara umum ia mengungkapkan kepuasannya terhadap aksi yang berlangsung dari pukul 14.00 hingga 17.00 WIB ini.

Pada dasarnya aksi semacam ini memang perlu digelar untuk mengingatkan kita semua, bahwa bumi ini berhak dicintai dan dijaga kelestariannya. Selain itu, aksi semacam ini dapat pula menjadi refleksi kita semua, agar mencoba mengoreksi diri berapa banyak hal yang kita lakukan selama ini, yang nyata-nyata telah membuat bumi kian sakit. Benar apa yang diungkapkan Sari di atas, segala usaha dan bentuk pelestarain alam ini ”yang penting dipraktekkan”. Ada usaha dari kita untuk menjaga lingkungan sekitar kita. Mungkin dari hal kecil membuang sampah di tempat sampah saja, tapi bila dilakukan setiap saat, selama bertahun-tahun, tentu hasilnya juga akan meringankan beban bumi yang kini telah semakin berat oleh berbagai macam pencemaran. Ingat, tak hanya kita yang berhak menikmati bumi, tapi juga generasi setelah kita kelak juga berhak bernafas dalam udara yang bersih. []

baca lanjutan..

15 April 2009

Unej Tetap Nonaktifkan Mahasiswa Telat Bayar Penundaan SPP

MAHASISWA yang terlambat membayar penundaan SPP dinyatakan tetap nonaktif status kemahasiswaannya dan tidak diperkenankan mengikuti kegiatan akademik (perkuliahan, ujian dan pratikum). Pernyataan tegas itu disampaikan Kepala Biro I Universitas Jember (Unej) Bambang Winarno ketika ditemui di ruang kerjanya Rabu (08/04) lalu.

Ketentuan ini sesuai dengan surat pemberitahuan yang disampaikan oleh Pembantu Rektor I Unej Agus Subekti tertanggal 30 Maret 2009. Namun dari data terbaru, ada perubahan jumlah mahasiswa yang dinonaktifkan. Jika sebelumnya dalam surat pemberitahuan yang ditujukan pada tiap pimpinan fakultas di Unej itu, ada 150 mahasiswa yang belum membayar penundaan SPP. Sampai batas akhir pembayaran tanggal 30 Maret ternyata ada 137 mahasiswa yang belum bayar penundaan SPP. Tiga belas mahasiswa telah membayar dalam jangka waktu perpanjangan yang diberikan. Selebihnya 137 mahasiswa yang tetap belum membayar dengan otomatis dinyatakan nonaktif.

Di semester-semester sebelumnya mahasiswa yang terlambat membayar memang tidak diberi sanksi apapun, walau melebihi batas waktu yang ditetapkan. Hingga UTS pun mahasiswa masih bisa membayar penundaan SPP dan mereka tetap bisa mengikuti ujian. Bambang Winarno menyatakan, ketegasan yang dilakukan oleh universitas merupakan upaya penerapan aturan yang telah ada. ”Peraturan bisa diubah, dulu masih ditolerir. Namun mulai semester ini, tidak ada toleransi lagi,” kata Bambang.

Keputusan ini, ditambahkan oleh Bambang, merupakan keputusan bersama antara pihak pimpinan universitas dan pimpinan di fakultas. Yang menjadi alasan penerapan aturan ini, setelah pihak universitas ditegur oleh Irjen yang melakukan monitoring. Saat itu ada temuan dari Irjen mengenai ketimpangan antara jumlah mahasiswa dengan total penerimaan universitas dari pembayaran SPP. ”Mahasiswa kok diperbolehkan mengikuti kegiatan akademik padahal belum membayar SPP,” kata Bambang menirukan pernyataan Irjen menanggapi temuan mahasiswa yang belum bayar SPP tapi diperkenankan kuliah.

Penundaan SPP selama ini dimanfaatkan oleh mahasiswa yang kurang mampu untuk membayar SPP dengan batas waktu yang diberikan. Menanggapi ini, Bambang menyangkal pernyataan yang menyebutkan bahwa, hanya mahasiswa yang kurang mampu saja yang melakukan penundaan SPP. Karena tidak ada aturan khusus yang mengatur penundaan SPP itu hanya bagi mahasiswa yang kurang mampu.

Persyaratan yang harus dipenuhi oleh mahasiswa yang akan melakukan penundaan pembayaran SPP hanya pernyataan tidak sanggup membayar SPP hingga batas waktu yang ditetapkan. Sebagai toleransi diberikan batas waktu khusus bagi mereka. ”Namun hingga batas waktu yang diberikan, banyak mahasiswa yang belum bayar. Padahal mereka sudah membuat surat pernyataan kesediaan sanggup membayar pada tanggal yang disepakati,” katanya.

Sosialisasi Setengah Hati

Upaya penerapan aturan yang dilakukan pihak universitas ternyata tidak diimbangi dengan sosialisasi yang memadai. Hal ini dilihat dari surat pemberitahuan tertanggal 30 Maret, walaupun diterima di fakultas pada hari itu juga, namun untuk sosialisasi sudah tidak memungkinkan. Mahasiswa tidak mengetahui batas akhir perpanjangan pembayaran penundaan SPP yang jatuh tempo pada tanggal itu. Hal ini yang menyebabkan mahasiswa tetap tidak membayar, walaupun ada sanksi berat yang mengancam mereka. Yakni, penonaktifan status kemahasiswaan mereka, serta pewajiban membayar SPP rangkap untuk dua semester.

Mahasiswa menganggap aturan penonaktifan itu tetap tidak akan dilakukan oleh universitas, seperti semester-semester sebelumnya. Moch. Hasan, Pembantu Dekan I Fakultas Mipa menceritakan, karena kebiasaan yang tidak ada sanksi. Ada mahasiswanya yang memilih meminjamkan uang pembayaran SPPnya pada temannya yang sedang butuh dan memilih tidak membayar penundaan SPP. Padahal ketika itu batas akhir pembayaran penundaan SPP sudah hampir habis.

Bambang Winarno mengatakan jika sosialisasi telah sampai pada mahasiswa. Menurutnya, hal ini dibuktikan dengan ada mahasiswa yang membayar pada jangka waktu perpanjangan yang diberikan selama 10 hari itu.

Dari ketiga belas nama itu, Tim Pretel baru bisa menemui salah seorang dari mahasiswa yang membayar penundaan SPP pada masa perpanjangan waktu yang diberikan. Heri Kristanto mahasiswa Jurusan IESP FE merupakan mahasiswa yang membayar penundaan SPP pada Senin (23/03). Menurut penjelasannya, ketika membayar SPP pada saat itu dia tidak tahu mengenai ketentuan baru dari universitas. Sebenarnya dia telah mengurus pembayaran sejak 20 Maret. Namun ketika itu hari Jumat, jadi ketika hendak mengurus administrasi di rektorat setelah Sholat Jumat petugasnya tidak ada ditempat. Pembayaran akhirnya dilakukan pada 23 Maret.

Tambahnya, ketika dia membayar petugas yang melayaninya juga tidak memberi informasi terkait penegakan kebijakan dan perpanjangan batas waktu pembayaran, serta sanksi yang diterima mahasiswa jika membayar melebihi tenggat yang ditetapkan. ”Jika ketika itu saya diberi tahu, maka akan saya informasikan pada mahasiswa lain. Karena bagaimanapun juga mereka teman-teman saya,” kata Heri berandai-andai.

Selain Heri, pernyataan sekitar 30-an mahasiswa yang hadir dalam forum komunikasi mahasiswa pada Minggu (5/04) di Gedung POMA FE mengatakan pendapat serupa. Yakni tidak mengetahui adanya penerapan kebijakan yang telah ada dengan disertai sanksi pula itu. Bahkan sebagian mereka, tahu dirinya dinyatakan nonaktif status kemahasiswaannya bukan dari pejabat berwenang di fakultas atau rektorat, malahan dari teman-teman mereka. [LIla Larasati, Edho Cahya K]

baca lanjutan..